H O R A S H A B A T A K O N: Umpasa/ Umpama/ Falsafah Batak
26 November, 2010
02 November, 2010
07 Juli, 2010
Miliki Kerinduan Untuk Berjalan Bersama Tuhan
Miliki Kerinduan Untuk Berjalan Bersama Tuhan
“Bila engkau berjalan langkahmu tidak akan terhambat, bila engkau berlari engkau tidak akan tersandung.” Amsal 4:12
Bacaan Alkitab : Keluaran 33:15-18
(15) Berkatalah Musa kepada-Nya: “Jika Engkau sendiri tidak membimbing kami, janganlah suruh kami berangkat dari sini. (16) Dari manakah gerangan akan diketahui, bahwa aku telah mendapat kasih karunia di hadapan-Mu, yakni aku dengan umat-Mu ini? Bukankah karena Engkau berjalan bersama-sama dengan kami, sehingga kami, aku dengan umat-Mu ini, dibedakan dari segala bangsa yang ada di muka bumi ini?” (17) Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: “Juga hal yang telah kaukatakan ini akan Kulakukan, karena engkau telah mendapat kasih karunia di hadapan-Ku dan Aku mengenal engkau.” (18) Tetapi jawabnya: “Perlihatkanlah kiranya kemuliaan-Mu kepadaku.”
Jika kita melihat dan menelaah apa yang Musa katakan kepada Tuhan, bahwa ia sangat menginginkan Tuhan untuk berjalan bersama dengan dia. Musa sangat tahu betapa ketika Tuhan berjalan bersama dengannya, ia dan bangsanya akan dibedakan dari semua bangsa yang ada di muka bumi ini. Perhatikan sekali lagi Keluaran 33:16b, bukankah karena Engkau berjalan bersama-sama dengan kami, sehingga kami, aku dengan umat-Mu ini, dibedakan dari segala bangsa yang ada di muka bumi ini?
*courtesy of PelitaHidup.com
Banyak dari kita yang dalam kehidupan ini, berjalan dengan kekuatan kita. terkadang kita merasakan kita mampu dalam mengatasi segala masalah kehidupan. Apalagi ketika kehidupan ini berjalan seperti biasa saja, sepertinya dalam keadaan normal. Padahal kita tidak tahu apa yang akan terjadi di hari esok, masalah apa yang akan timbul esok hari. Ada juga yang melupakan Tuhan, seperti murid- murid Tuhan Yesus ketika badai menerpa perahu mereka. Dengan sekuat tenaga mereka mencoba terlebih dahulu mengatasi badai tersebut, dan membiarkan Tuhan Yesus tidur di buritan. Sampai akhirnya mereka kelelahan dan menyalahkan Tuhan.
Bukankah kehidupan kita sama seperti murid murid Tuhan Yesus, merasa keadaan normal, kita merasa dapat mengatasi segala sesuatu? Tuhan tahu tentang Anda dan kehidupan Anda, Dia tahu apa yang akan terjadi di hari esok. Dia tahu bahwa Anda tidak akan pernah mampu untuk berjuang sendirian. Oleh sebab itu, jika Anda maumempercayaiNya, mau berjalan bersama denganNya, Dia akan berjalan mendahului Anda. Supaya ketika Anda berjalan menempuhnya, Anda tidak pernah mendapatkan halangan yang berat di dalam hidup Anda.
Yesaya 45:2 Aku sendiri hendak berjalan di depanmu dan hendak meratakan gunung-gunung, hendak memecahkan pintu-pintu tembaga dan hendak mematahkan palang-palang besi.
Allah sangat ingin di libatkan di dalam setiap apapun yang kita lakukan. Dia begitu ingin setiap orang yang mengaku dan percaya padaNya, untuk melihat bahwa hanya Dia Yesus Tuhan yang sanggup melakukan apapun, Dia Yesus Tuhan, Allah diatas segala Allah, yang mampu memberi pertolongan yang sempurna.
Ketika kita melibatkan Dia, dalam masalah apapun juga, sekecil apapun, maka Allah akan memberikan kekuatan kepada kita agar dalam menjalani kehidupan kita akan terasa sangat indah.
*courtesy of PelitaHidup.com
Perhatikan Filipi 3:19 Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku. Seperti seorang Bapa yang menggandeng tangan anaknya, menuntun dijalan yang baik, di jalan yang rata. Seorang Bapa yang tidak akan membiarkan anaknya terantuk batu, ataupun jatuh. Seorang Bapa yang melindungi anaknya dari apapun. Demikian Bapa kita di surga akan memperlakukan kita lebih lagi.
Matius 7:11 Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya.
*courtesy of PelitaHidup.com
Daud tidak pernah takut akan bahaya, karena ia senantiasa berjalan bersama dengan Allahnya. Perhatikan Mazmur 16:8b karena Ia berdiri di sebelah kananku, aku tidak goyah. Allah mengulurkan tanganNya pada Anda saat ini, Dia ingin Anda melewati sesuatunya bersama dengan Dia, jangan tunggu permasalahan itu ada dulu , baru kita mencari Dia. Tetapi biarkan Anda mengatakan : “ Berjalanlah bersama dengan Aku, Tuhan ! “ biar Anda di bedakan dengan yang lain
“Bila engkau berjalan langkahmu tidak akan terhambat, bila engkau berlari engkau tidak akan tersandung.” Amsal 4:12
Bacaan Alkitab : Keluaran 33:15-18
(15) Berkatalah Musa kepada-Nya: “Jika Engkau sendiri tidak membimbing kami, janganlah suruh kami berangkat dari sini. (16) Dari manakah gerangan akan diketahui, bahwa aku telah mendapat kasih karunia di hadapan-Mu, yakni aku dengan umat-Mu ini? Bukankah karena Engkau berjalan bersama-sama dengan kami, sehingga kami, aku dengan umat-Mu ini, dibedakan dari segala bangsa yang ada di muka bumi ini?” (17) Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: “Juga hal yang telah kaukatakan ini akan Kulakukan, karena engkau telah mendapat kasih karunia di hadapan-Ku dan Aku mengenal engkau.” (18) Tetapi jawabnya: “Perlihatkanlah kiranya kemuliaan-Mu kepadaku.”
Jika kita melihat dan menelaah apa yang Musa katakan kepada Tuhan, bahwa ia sangat menginginkan Tuhan untuk berjalan bersama dengan dia. Musa sangat tahu betapa ketika Tuhan berjalan bersama dengannya, ia dan bangsanya akan dibedakan dari semua bangsa yang ada di muka bumi ini. Perhatikan sekali lagi Keluaran 33:16b, bukankah karena Engkau berjalan bersama-sama dengan kami, sehingga kami, aku dengan umat-Mu ini, dibedakan dari segala bangsa yang ada di muka bumi ini?
*courtesy of PelitaHidup.com
Banyak dari kita yang dalam kehidupan ini, berjalan dengan kekuatan kita. terkadang kita merasakan kita mampu dalam mengatasi segala masalah kehidupan. Apalagi ketika kehidupan ini berjalan seperti biasa saja, sepertinya dalam keadaan normal. Padahal kita tidak tahu apa yang akan terjadi di hari esok, masalah apa yang akan timbul esok hari. Ada juga yang melupakan Tuhan, seperti murid- murid Tuhan Yesus ketika badai menerpa perahu mereka. Dengan sekuat tenaga mereka mencoba terlebih dahulu mengatasi badai tersebut, dan membiarkan Tuhan Yesus tidur di buritan. Sampai akhirnya mereka kelelahan dan menyalahkan Tuhan.
Bukankah kehidupan kita sama seperti murid murid Tuhan Yesus, merasa keadaan normal, kita merasa dapat mengatasi segala sesuatu? Tuhan tahu tentang Anda dan kehidupan Anda, Dia tahu apa yang akan terjadi di hari esok. Dia tahu bahwa Anda tidak akan pernah mampu untuk berjuang sendirian. Oleh sebab itu, jika Anda maumempercayaiNya, mau berjalan bersama denganNya, Dia akan berjalan mendahului Anda. Supaya ketika Anda berjalan menempuhnya, Anda tidak pernah mendapatkan halangan yang berat di dalam hidup Anda.
Yesaya 45:2 Aku sendiri hendak berjalan di depanmu dan hendak meratakan gunung-gunung, hendak memecahkan pintu-pintu tembaga dan hendak mematahkan palang-palang besi.
Allah sangat ingin di libatkan di dalam setiap apapun yang kita lakukan. Dia begitu ingin setiap orang yang mengaku dan percaya padaNya, untuk melihat bahwa hanya Dia Yesus Tuhan yang sanggup melakukan apapun, Dia Yesus Tuhan, Allah diatas segala Allah, yang mampu memberi pertolongan yang sempurna.
Ketika kita melibatkan Dia, dalam masalah apapun juga, sekecil apapun, maka Allah akan memberikan kekuatan kepada kita agar dalam menjalani kehidupan kita akan terasa sangat indah.
*courtesy of PelitaHidup.com
Perhatikan Filipi 3:19 Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku. Seperti seorang Bapa yang menggandeng tangan anaknya, menuntun dijalan yang baik, di jalan yang rata. Seorang Bapa yang tidak akan membiarkan anaknya terantuk batu, ataupun jatuh. Seorang Bapa yang melindungi anaknya dari apapun. Demikian Bapa kita di surga akan memperlakukan kita lebih lagi.
Matius 7:11 Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya.
*courtesy of PelitaHidup.com
Daud tidak pernah takut akan bahaya, karena ia senantiasa berjalan bersama dengan Allahnya. Perhatikan Mazmur 16:8b karena Ia berdiri di sebelah kananku, aku tidak goyah. Allah mengulurkan tanganNya pada Anda saat ini, Dia ingin Anda melewati sesuatunya bersama dengan Dia, jangan tunggu permasalahan itu ada dulu , baru kita mencari Dia. Tetapi biarkan Anda mengatakan : “ Berjalanlah bersama dengan Aku, Tuhan ! “ biar Anda di bedakan dengan yang lain
01 April, 2010
Renungan Paskah
Mengapa Harus Salib
Bayang-bayang Golgota semakin nyata. Awan pekat semakin dekat. Dan aroma kematian pun kian akrab.
Yesus tahu, hidupnya tak akan lama. Hati-Nya mulai resah dan gundah. Namun bukan kematian yang amat menekan jiwa-Nya, melainkan sakitnya, pedihnya, dan ngerinya penderitaan yang harus Dia alami sebelum kematian tiba. Piala pahit yang mesti direguk-Nya. Tepat sekali apa yang dikatakan Napoleon: “sesungguhnyalah, penderitaan itu lebih mengerikan daripada kematian!”
Ada sebuah pesta di Betania! Penginjil Yohanes mencatat, "Di situ diadakan perjamuan untuk Dia." Sebuah pesta khusus untuk Yesus! .Ketika awan mendung kian berat menggantung, secercah cahaya surya menyusup masuk. Walau sejenak. Ya. Sebab apa lagi yang lebih dibutuhkan selama saat-saat berat seperti itu, selain ungkapan cinta dan setia? Apa lagi yang dibutuhkan ,ketika seluruh dunia mendesahkan napas benci, kecuali bahwa masih ada sahabat-sahabat yang tetap mencintai? Bayangan penderitaan itu begitu
memenatkan, tapi kasih sayang itu begitu menguatkan. Bekal mati yang meringankan gundah hati.
***
Hampir semua teman dekat Yesus ada di sana. Tetapi secara khusus, Yohanes cuma mencatat tiga nama. dan Kebetulan, tiga bersaudara.Yang pertama adalah Lazarus. Ia, kata Yohanes, adalah "salah seorang
yang turut makan dengan Yesus".Yang kedua adalah Marta. Yang seperti kita duga, menurut Yohanes,
sedang sibuk "melayani".Dan yang ketiga adalah Maria. Tentang Maria inilah, Yohanes bercerita
paling banyak. "Maka Maria mengambil setengah kati minyak narwastu murni yang mahal harganya, lalu meminyaki kaki Yesus dan menyekanya dengan rambutnya; dan bau minyak semerbak di seluruh rumah itu."
***
Maria, sudahlah pasti, bukanlah seorang gadis kaya raya. Ia, sudahlah pasti, harus menabung cukup lama, sampai ia berhasil membeli "setengah kati minyak narwastu murni yang mahal". Harganya 300 dinar lebih. Atau 225.000 rupiah lebih. Coba Anda bayangkan: parfum seharga seperempat juta rupiah!
Maria, sudahlah pasti, tak pernah memakai parfum semahal itu. Parfum itu dibelinya khusus untuk Yesus.
Itulah ungkapan cinta yang paling wajar. Cinta sejati tidak cuma memberi apa yang sudah ada, banyak atau sedikit. Cinta sejati tidak puas cuma memberi sisa-sisa: , sisa-sisa tenaga, sisa-sisa pikiran, sisa-sisa waktu, dan atau sisa-sisa uang. Cinta sejati tidak pernah hanya asal memberi.
Cinta sejati selalu berarti: dengan sadar dan dengan sengaja menyiapkan secara khusus yang terindah, yang terbaik, yang paling berharga, yang dapat kita persembahkan. Mempersembahkan yang maksimal, bukan yang minimal.Oleh karena itu, pantas sekali bila Yesus memuji Maria setinggi langit. Tetapi, apakah itu karena Maria memberikan sesuatu yang amat mahal? Oya, memang begitu. Tetapi pasti bukan hanya karena itu.Menurut Yohanes, klimaksnya bukanlah ketika minyak narwastu dituangkan. Tetapi ketika Maria "meminyaki kaki Yesus dan menyekanya dengan rambutnya".
Maria menciptakan sebuah ritus baru! Spontanitas cintanya membuatnya tak terikat kepada ritus-ritus formal. Biasanya yang diurapi adalah kepala, kini kaki. Biasanya minyak yang meleleh diseka dengan kain,
kini rambut.Yang terhina dari Yesus diseka dengan yang paling mulia dari Maria. Bila ini bukan ungkapan penyerahan diri yang paling dalam, lalu apalagi?! Yang dipersembahkan bukan saja yang paling indah, yang
paling baik, dan yang paling mahal, tetapi yang paling mulia-termasuk seluruh kehormatan dan harga diri Maria.
***
Melalui kisah Maria ini, Yohanes hendak mengungkapkan suatu sikap religius yang paling autentik. Dan sikap religius seperti itu, sesungguhnyalah begitu relevan bagi kita, kini dan di sini. Ketika begitu banyak orang mengeluh tak habis mengerti, mengapa di satu pihak kita membanggakan diri sebagai suatu masyarakat yang amat religius (dan ini memang tidak salah!), tetapi di lain pihak, seolah-olah hidup serta kenyataan sehari-hari tak terjamah oleh nilai-nilai religi. Sebab ketika pembangunan rumah-rumah ibadah
serta pengunjung kegiatan-kegiatan ibadah secara kuantitatif amat menakjubkan, tetapi hidup keseharian kita berlangsung biasa-biasa saja, tanpa perubahan kualitatif.
Sebabnya ialah, memang tidak cukup membuat pesta-pesta bagi Yesus seperti di Betania. Sebabnya ialah, memang tidak cukup bersikap seperti Lazarus, yang sekadar hadir dan "turut makan". Sebabnya ialah,
memang tidak cukup bersikap seperti Marta, yang sibuk "melayani".Yang dibutuhkan ialah, suatu sikap dan tindakan agamawi yang autentik seperti Maria. Sikap dan tindakan agamawi yang benar-benar keluar dari
hati. Dari hati yang didesak-desak cinta yang murni. Dari hati yang diganggu oleh kebutuhan untuk mengungkapkan penyerahan diri yang sejati. Sebab itu, ia tidak cuma tindakan objektif. Ia amat personal
dan subjektif. Sebab itu, ia tidak cuma formal, ia amat eksistensial. Inilah yang membuat "bau minyak semerbak di seluruh rumah itu"!
Kehidupan religius yang berkembang itu sesungguhnya hanya dapat diukur dari satu tolok ukur ini saja: apakah ia mampu menyebarkan semerbak bau narwastu di seluruh sendi kehidupan kita dalam bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara? Bukan semerbaknya bau kedengkian. Bukan membubungnya asap kecurigaan. Bukan menggumpalnya kebencian.
Bila memang minyak narwastulah yang kita tuangkan ke kaki sembahan kita, maka memang hanya semerbak bau narwastu yang akan memenuhi kehidupan.
Jadi, marilah kita masing-masing bertanya: minyak apa yang sebenarnya kita tuangkan dalam ibadah-ibadah kita selama ini?
Diambil dari:
Judul buku: Mengapa Harus Salib
Penulis: Pdt. Eka Darmaputera, Ph.D.
Penerbit: Gloria Graffa
Halaman: 30 -- 35
Keluarga B.A Pakpahan
mengucapkan
Selamat Paskah 2010 dan Tuhan Yesus Memberkati
31 Maret, 2010
Renungan Kisah dan Kesaksian
Kisah & Kesaksian
“Karena saat saya sampai di Sorga nanti, saya ingin yang pertama kali saya lihat adalah Juruselamat saya."
Bagai mana dengan anda ????
Dari :
Francis jane Crosby
Francis Jane Crosby terlahir normal pada tanggal 24 Maret 1820. Ketika masih berusia enam minggu, dia menderita infeksi di matanya. Lalu ada seorang yang mengaku-aku sebagai dokter yang mencoba-coba mengobati mata Fanny. Dia meletakkan semangkuk bubur panas di atas kelopak matanya. Akibatnya mata Fanny justru menjadi buta.
Beberapa bulan kemudian, ayah Fanny meninggal dunia. Untuk menghidupi keluarga, Ibunya lalu bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Fanny kecil dititipkan pada neneknya. Dengan sabar, sang nenek mendidik Fanny kecil. Dia sering membacakan Alkitab dan menjelaskan iman Kristen pada Fanny. Ketika Fanny merasa sedih karena tidak bisa bermain seperti anak-anak lain, neneknya lalu mengajarkan cara berdoa pada Tuhan.
Selain itu, ada juga seorang wanita kaya bernama Ny. Hawley yang membantu Fanny menghapal Alkitab. Fanny mampu menghapal kitab Taurat, Injil, Amsal, Kidung Agung dan Mazmur. Kemampuan menghapalnya ini membuat orang lain terkagum-kagum, tetapi Fanny merasa biasa saja. Meski begitu, dia merasa bersyukur sebab dengan kebutaaannya ini malah membuatnya gampang untuk menghapal. Fanny tidak pernah merasa sedih karena kebutaannya ini. Bahkan ketika masih berusia delapan tahun, dia menulis puisi:
Oh, aku anak yang sangat berbahagia,
meskipun tidak bisa melihat!
Aku memutuskan bahwa di dunia ini,
aku akan berpuas hati!
Banyak berkat kunikmati,
yang tidak orang lain dapati!
Untuk menangis atau berduka karena aku buta,
Aku tak akan melakukannya.
Pada usia 12 tahun, Fanny bersekolah di Institut untuk Orang Buta di New York. Dia lalu mengajar di tempat itu sambil terus menulis puisi. Pada tahun 1858, Fanny menikah dengan Alexander van Alstine, seorang pemain organ terkenal di New York. Fanny sendiri sebenarnya juga pandai bermain harpa dan piano. Beberapa tahun kemudian, Fanny diminta penerbit buku "Bigelow and Main" untuk menulis 3 lagu setiap minggu, yang akan dimuat dalam terbitan untuk Sekolah Minggu.
Hingga meninggal Fanny telah menulis 9000 himne. Banyak lagu ciptaannya yang digemari banyak orang dan menjadi abadi. Sampai kini, orang-orang Kristen masih sering menyanyikan lagu-lagu ciptaannya, seperti "Blessed Assurance"(Kuberbahagia, Yakin Teguh)," "All the Way My Savior Leads Me"(Di Jalan 'Ku Diiring), "Pass Me Not, O Gentle Savior"(Mampirlah, dengar Doaku) " Safe in the Arms of Jesus" (S'lamat di Tangan Yesus), "Jesus, Keep Me Near the Cross"(Pada Kaki SalibMu) "I Am Thine, O Lord" (Aku Milik-Mu, Yesus, Tuhanku) dan masih banyak lagi.
Tuhan merencanakan yang terindah bagi Fanny dengan kebutaan itu. Hal ini sangat disadari oleh Fanny. Dia tidak pernah menyesali kekurangannya itu. Dia malah berkata: "[Kebutaan] ini adalah hal terbaik yang pernah terjadi pada saya." Dia juga berkata, "Apakah jika saya tidak buta, hidup saya bisa seindah sekarang ini?" Di kesempatan lain dia berkata:" Tampaknya ini memang berkat dari Tuhan, yaitu bahwa saya harus buta seumur hidup. Dan saya bersyukur untuk perkecualian ini. Seandainya besok saya ditawari untuk bisa melihat dunia ini dengan sempurna, saya tidak akan menerimanya. Saya mungkin tidak akan pernah bernyanyi memuji Tuhan, jika saya lebih tertarik pada penglihatan yang lebih indah dan menarik."
Suatu kali ada pendeta yang menaruh rasa iba pada Fanny. Dia berkata," Sungguh kasihan. Yang Maha kuasa melimpahkan bakat yang berlimpah-limpah pada Anda, tetapi tidak memberikan penglihatan pada Anda."
Fanny langsung menjawab, “Jika aku bisa dilahirkan lagi, saya akan mengajukan permintaan agar dilahirkan dalam keadaan buta."
“Lho, mengapa begitu?”tanya hamba Tuhan dengan kaget.
“Karena saat saya sampai di Sorga nanti, saya ingin yang pertama kali saya lihat adalah Juruselamat saya."
Bagai mana dengan anda ????
Langganan:
Komentar (Atom)

